#FeelingFriday : After 10 years passed

​Holaaaa… Assalamualaikum wr wb

Duh betapa berdebunya tumblr ini setelah tak tersentuh lebih dari setahun lamanya. Sungguh bukan maksud hati untuk tak setia pada blog ini, tapi apalah daya yang saya punya kalau mood untuk menulis terasa enggan untuk hinggap (intinya bilang aja males. Titik. Hehe)
Akhirnya sebagai salah satu solusi agar blog ini terus di update, saya ngintilin ide dari sahabat2 tergila saya untuk mengisi blog setiap hari jumat dengan tema yang sudah kita tentukan bersama. Harusnya ini dimulai sejak minggu lalu siii… Tapi ya karena kemalasan saya tadi, alhasil saya baru posting hari ini. Hehe (siap2 ditimpuk feeling)
Kenapa feeling dan kenapa friday? Feeling adalah akronim dari nama saya beserta 4 orang sahabat saya yakni D dari Firda, EEL dari Ellen, I dari Icha, N dari Ninik dan G dari Gina. Tapi ajaibnya lidah ini terasa aneh kalo nyebutin nama2 tadi karena kami terbiasa menggunakan nama alias yang berasal dari berbagai jenis novel, komik ataupun film. Misal nih yang paling sering saya gunakan adalah nama alias kami dari komik DDS (Dan Detective School) dimana saya memanggil mereka dengan sebutan megu, kinta, kyu dan kaz. hihi
Oke back to the topic. Jadi di tulisan feeling friday yang pertama ini topiknya adalah saya 2006 vs 2016. Apa sih bedanya si pauz di tahun 2006 dulu sama di tahun 2016 ini??? Oke mari kita telaah satu persatu🙂
Firda tahun 2006 berarti masih SMP kelas 2 menuju kelas 3 dimana saya selalu ditinggal karena anggota feeling lain adalah kakak kelas saya. Alhasil, ketika itu mereka semua masuk SMA tapi saya masih di di SMP :3 sementara di tahun 2016 ini kami semua sudah menyelesaikan pendidikan sarjana kami (bahkan ada yang sudah selesai s2 juga tapi sayangnya itu bukan saya😦 syediiih…) dan kami mulai memasuki dunia orang dewasa dimana obrolan kami bukan hanya sekedar harry potter ataupun komik tapi juga seputar masakan, cicilan rumah, anak, dan juga hubungan kami dengan partner kami masing – masing (3 dari kami sudah berkeluarga sementara saya dan kyu entah kenapa masih betah dengan perjuangan independen kami. Ya doakan sajalah🙂 banyak yang harus kamu persiapkan untuk melangkah ke arah sana )
Yang lainnya adalah kalau Firda 2006 adalah Firda yang mulai hobi banget beli buku bacaan (terutama novel) maka Firda 2016 adalah Firda yang suka baca buku di gadget (hemat beloooh) tapi bukan berarti tidak membeli sama sekali melainkan mulai belajar memprioritaskan sesuatu. Secara dulu duit mengalir dari ortu dan bisa dibelanjakan seenak jidat. Kalau sekarang kan kudu nabung dulu :3
Oh iya, sepuluh tahun yang lalu saya adalah seorang murid ‘cukup rajin’ yang dekat dengan guru (bahkan sampai sekarang masih suka tuh di bully sama gurul SMP saya:/ ) maka saat ini saya adalah seorang jobseeker yang baru selesai tes beberapa hari yang lalu (mohon doanya yaaa :3 ini perusahaannya uda bikin jatuh cinta sejak interview >.< )
Disamping perubahan – perubahan normal yang terjadi pada diri saya (ceileh), perubahan yang paling mencolok bagi saya pribadi adalah kegemaran saya untuk di foto. Kalau waktu jaman SMP nih, difoto adalah salah satu hal yang saya benci tapi kalo sekaraaang jangan ditanya. Narsis parah! Hihi
Dan yang paling precious dari semuanya adalah saya memiliki sahabat (yang gila sableng dan cerewet) yang tak pernah lekang oleh waktu #tsah dimana 10 tahun lalu kami menggila bersama dan saat inipun kami masi melakukan hal itu. Bedanya jika dulu kami hampir tiap hari bertemu, saat ini kami hanya bertemu setahun sekali. Meskipun demikian, kami masih menggila tiap detiknya melalui grup line yang entah kenapa rasanya gapernah sepi. Hingga terkadang saya berfikir, kita ini berasa jadi pengangguran deh (sekarang sih saya dan kyu emang pengangguran setelah resign dari tempat kerja sebelumnya)
Berharap persabatan ini akan terjalin seterusnya dari jaman piyik dulu sampai nantinya kita menua bersama partner kita masing – masing. Aamiin

Agustus 2014

Cinta. Sebuah bahasan yang tak kan pernah habis seiring berlalunya waktu. Ia terus tumbuh, berkembang dan tak pernah bosan untuk tercipta. Ada begitu banyak cinta di dunia ini. Cinta seorang hamba kepada Tuhannya, cinta seorang anak kepada orang tuanya, cinta orang tua kepada anaknya, cinta seorang adik kepada kakaknya, dan berbagai macam cinta lainnya termasuk cinta seorang perempuan pada lelakinya. Aaaah… yang terakhir ini seakan selalu menggelora di setiap titik kehidupan yang ada. Seakan tak pernah lelah untuk diceritakan, tak pernah jenuh untuk diperdengarkan dan tak kan pernah mati sampai kapanpun.🙂 Bagi saya, cinta kepada lawan jenis selalu tabu untuk di bicarakan, terlebih untuk di ungkapkan. Entahlah. Mungkin karena saya adalah makhluk  kuno yang tinggal di era millennium :3

Saya bukan makhluk anti cinta yang bisa dengan mudahnya mematikan hati saya demi menunggu seseorang di masa depan untuk halal  saya cintai. Saya pernah jatuh cinta begitu dalam hingga rasanya begitu membuat saya bahagia sekaligus menyakitkan. Bahagia karena ternyata ada seseorang yang kepadanya kau gantungkan harapan, cita – cita dan cintamu untuk masa depan kalian. Menyakitkan karena kalian merasakan ini ketika belum tiba saatnya untuk menumbuhkembangkan rasa ini. Lebih menyakitkan ketika kamu menyadari bahwa ternyata rencana indah yang Allah susun berbeda dengan rencana indah yang kau susun. Ketika itu terjadi, mungkin akan sulit bagimu untuk melihat bahwa selalu ada makna yang berari dari setiap kejadian yang menimpa hidupmu. Begitupun dengan saya. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah untuk saya meski hingga kini belum  sayaketahui apa yang Allah rencanakan itu. Bahkan ketika itu terjadi, saya merasa bahwa saya tak akan pernah merasakan lagi seperti apa jatuh cinta itu. Karena saya merasa dia telah membawa hati saya jauh – jauh (kalo saya mikir ini sekarang, rasanya saya makhluk paling lebay, tidak bersyukur dan lain sebagainya), merasa bahwa kehilangannya adalah kiamat bagi saya. Padahal nyatanya sampai sekarang saya masih bisa tetap hidup dan tersenyum lebar meskipun tanpa dirinya disamping saya.🙂 Semuanya hanya karena terbiasa dan bagaimana cara kita mengelola hati. Yakin bahwa apa yang ada dalam hidup kita adalah yang terbaik dan kita patut mensyukurinya. Oke, lalu apa hubungan paragraph pertama dengan kedua? Gak ada. Saya Cuma curcol aja -_- kebiasaan cerita melantur kemana – mana.

Dilihat dari panjangnya paragraph dua tadi, ada satu kalimat yang ingin saya bahas disini yaitu kalimat yang di bold berwana merah. Kalau ada yang pernah atau bahkan sedang memiliki pikiran yang sama dengan kalimat tersebut, mending cabut aja deh kata – katanya. Karena pada akhirnya, kita akan sadar bahwa yang membolak – balikkan hati itu bukan kita melainkan Allah. Mungkin sekarang kita akan bilang dengan lantang “saya cinta A” tapi siapa yang bisa menyalahkan kalau pada menit berikutnya Allah menggerakkan hatimu untuk mencintai B? Mungkin detik ini kamu bilang “saya gak bisa move on dari C” tapi bagaimana kalau pada detik berikutnya Allah menggerakkan hatimu untuk mencintai D? Mungkin tidak akan secepat itu, mungkin akan butuh proses dan juga memakan waktu beberapa lama, tapi yakinlah bahwa apa yang ada di hati ini hanya karena Allah yang memberikannya kepada kita. Jangan terlalu bangga, bahagia, tsayat ataupun kecewa dengan semua hal yang berkaitan dengan hati, karena kita tidak akan pernah tau kearah mana Allah akan menggerakkan hati kita.

Saya masih bisa mengingat, hanya beberapa orang yang dulunya tau mengenai kisah kami hingga akhirnya kegalauan dan kelabilan membuat saya membukanya di depan publik -_- dan kemudian, ternyata semua tulisan ini lebih mampu untuk menginspirasi dan memotivasi saya untuk menjadi lebih baik. Membuat saya menyadari betapa Allah menyayangi saya dan mendewasakan saya dengan caraNya yang indah.🙂 Alhamdulillah… Lalu, apa kabarnya hati saya kini? Biarlah saya dan Allah yang tau. Biarlah Allah terus menjaga hati ini hingga nantinya bertemu dengan seseorang yang tepat.🙂

Mungkin ini adalah tulisan terakhir tentang Sang Bintang. Bukan karena sudah melupakan, tapi karena rasanya gak baik nulis hal – hal berbau galau padahal itu sudah berlalu😀 Dia adalah sahabat yang akan selalu hidup di hati dan kenangan saya. Dan untuk sahabat saya ini, saya ucapkan terimakasih karena telah menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan diri saya…🙂 dan maaf karena ternyata butuh waktu begitu lama untuk kembali tersenyum dan menepati janji untuk tetap baik – baik saja. Sekarang, aku bisa mengenangmu dengan senyuman🙂 btw, selamat ulang tahun yang ke – 23 Mas…

*Pauz akhirnya kembali pada peradaban blog setelah sekian lama mengarungi birunya laut… :3 ceritanya ini cuma curhatan gak jelas untuk membuang segala lelah dan jenuh setelah berkubang dengan tetek bengek skripsi, TOEFL, dan persyaratan kelulusan lainnya. Dan akhirnya, sekarang saya menjadi pengangguran:/ sedih rasanya…

 

 

 

Aku dan Sistur. Sepenggal Cerita di Penghujung Semester 7

Pernah gak kamu merasa gak puas dengan nilai yang kamu dapet? Padahal usahamu uda mentok dan merasa bakal dapet yang lebih baik dari itu. Aku pernah beberapa kali. Ketika nilai – nilai yang kuharapkan bisa lebih dari itu ternyata malah memburuk. Bahkan semester ini aku mengalami itu kembali di mata kuliah Biokomp. Kurang 0.6 untuk mendapatkan point A. Aku sedih? Iya. Aku kecewa? Iya. Tapi ternyata itu belum apa – apa. Toh aku masih bisa menerima nilai itu. Aku cuma shock sesaat lalu kembali seperti biasa.

Malam ini, aku kembali dikejutkan dengan nilai sistem pengaturan. Begitu liat huruf yang tertera, aku kecewa. But it’s okay. No problem. Selama ini, aku belum terlalu mempermasalahkan nilai sih. Biasanya memang lebih kutekankan pada point – pointnya. Seperti biasa, aku cek itu nilai tiap point nya. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Ada sesal yang menelusup di dada. Ada kecewa yang membuncah di hati. Bukan karena nilai. Bukan. Tapi lebih karena usahaku yang tidak maksimal setelah UTS. Juga kesadaran bahwa semester ini aku tidak adil. Betapa aku terlalu mementingkan proposal dibanding kuliah. Dan sistur ini berhasil menamparku :’)

Selama 3.5 tahun berkuliah, untuk pertama kalinya aku menangis karena masalah nilai. Dan ini SISTUR. Mata kuliah pilihan dan hanya 2 sks. Bukan 3 sks seperti beberapa mata kuliah penting lainnya. Bahkan semester 2 dulu ketika nilaiku terjun bebas, aku tidak menangis. Aaah… sistur ini memang sukanya bikin orang galau kok… :’) Tapi bukan sistur sih namanya kalo gak bikin aku galau. Hihihihi

Kembali aku melihat 3 point nilai yang tertera, ada sedikit senyum yang tercipta. Karena akhirnya, setelah 3 kali mengikuti mata kuliah yang di ampu dosen tersebut, aku bisa membuktikan bahwa nilaiku tidak hanya berkisar di sektor angka yang sama seperti sebelum – sebelumnya.

Meskipun aku juga masih belum memahami kenapa nilai di point 3 sebegitu berbedanya dengan nilai di point 1. Aaah… tiap dosen pasti memiliki pola pikir yang berbeda. Dan mungkin aku belum bisa memberikan point yang di inginkan oleh dosen tersebut. It’s okay.

Satu perenungan malam ini, kalo kamu memang interest sama kuliah itu, lakukan yang terbaik yang kamu bisa sampai akhir. Seperti apapun keadaannya. Ya, penyesalan ini karena aku tidak mengusahakan yang terbaik sampai akhir. Aku memilih untuk menenggelamkan diriku dalam pikiran ‘aku jenuh’ tanpa berfikir ‘ini lho saatnya mengembangkan ilmumu’.

Yaaak… renungan selesai :3 Semoga nilai yang belum keluar hasilnya bagus dan semester 8 nanti HARUS lebih baik lagi.🙂 Semangat Pauz!!!

= Aku dan Sistur. Sepenggal Cerita di Penghujung Semester 7=

Dear ALLAH, Thanks for everything🙂 I love you