Seuntai kata di 24 Maret 2012

“Kalo gak bisa bilang! Jangan buat orang nunggu gini! Nyebellin banget kalo di saat penting malah gak di bales!”

Itu sms ke enam yang kubaca pertama kali ketika melihat hape yang sedang ku charge sejak pukul setengah 4 sore ini. SMS yang membuatku kaget –sangat kaget- karena tak membaca sms – sms yang sebelumnya. Kemudian aku membaca sms – sms sebelumnya dan aku menyadari bahwa dirimu membutuhkan sesuatu yang sangat mendesak tapi ternyata tak bisa kulakukan karena hape ini tergeletak di bufet kamar tidurku sementara aku mengerjakan laporan elektronika digital di ruang tamu. Setelah selesai membaca semua sms – smsmu yang berjumlah 6 buah, aku segera mencari hal yang kau butuhkan secepat yang aku bisa meskipun kusadari dengan sangat ini sudah terlambat. Tapi aku tak bisa melakukan yang lebih baik daripada itu kan?

Setelah semua yang kaubutuhkan kudapatkan, aku segera menjawab pesanmu dan menjelaskan akan sesegera mungkin memberikan apa yang sudah menjadi hakmu. Bukan hakku…🙂 setelah memastikan sms itu terkirim aku langsung menuju kamar mandi. Rencana awal hanya untuk buang air kecil. Tapi ternyata tak seperti dugaan awal. Aku membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berada di kamar mandi karena ternyata hujan yang membasahi pipi ini tak kunjung menunjukkan tanda – tanda akan berhenti.

Aku tak tahu apa yang salah. Aku yakin dirimu benar karena kutahu kaupun sedang terdesak dan membutuhkan data itu sesegera mungkin. Dan aku tahu bahwa keteledoranku kali ini adalah membiarkan hapeku tak terjangkau olehku untuk beberapa saat lamanya karena keasyikanku mengerjakan laporan. Lalu dimana letak masalahnya hingga rasanya dada ini begitu sakit?

Aku merenung hingga menyadari bahwa kau tak pernah melontarkan kata – kata sekasar itu padaku. Selama aku mengenalmu salama ini. Semarah apapun dirimu padaku. Mungkin itu yang membuatku merasa sakit. Sekali lagi itu hanya mungkin. Sebuah hipotesa tak pasti yang kubuat dengan ragu di tengah banjir air mata yang tak kunjung mereda.

Aku adalah anak manja yang memiliki karakter begitu melankolis. Yang tumbuh dan besar dengan orang kedua orang tua yang begitu memanjakanku, menyayangiku dan selalu memberikan apa – apa yang kubutuhkan. Meskipun dunia kampus mampu membuat sifat melankolisku sedikit berkurang – sekali lagi hanya sedikit berkurang – tapi tentu tak mampu mengubah sifat itu secara menyeluruh. Aku masih tipe orang yang tidak bisa mendengar bentakan, mendengar meja dipukul, pintu di banting, suara biasa yang cenderung keras bahkan sebuah pesan singkat yang menggunakan tanda seru sekalipun. Karena buatku – di pikiranku – tanda seru berarti berbicara dengan nada keras dan cenderung membentak.

Aku tidak marah – dan tidak akan marah hanya karena ini – tapi aku tidak akan berkata bahwa aku tidak sedih. Karena sejujurnya aku sangat sedih dan terpukul. Silahkan berkata apa. Bukan lebay ataupun alay. Tapi memang inilah aku. Gadis yang begitu sensitif dan tidak bisa dikerasi sedikit saja. Karena apa – apa yang terlihat ‘keras’ bagiku akan begitu membekas disini. Di dada ini.🙂

7 responses

**Apa Komentarmu???** ^o^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s